Monday, August 3, 2009

Penggunaan Peta Konsep dalam Pembelajaran

Pembelajaran memiliki makna yang berbeda dibanding pengajaran. Menurut Miarso pengajaran adalah usaha membimbing  dan mengarahkan pengalaman belajar kepada peserta didik yang biasanya berlangsung dalam situasi resmi/formal. Menurut Sudirdjo dan Siregar pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated) pencapaiannya. Adapun menurut Miarso pembelajaran adalah usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk diri secara positif tertentu dalam kondisi tertentu. Dari kedua definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran merupakan sebuah proses interaksi antara peserta didik dengan sumber belajar dalam suatu lingkungan yang dikelola dengan sengaja agar tercapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan.

Dick & Carey mengungkapkan bahwa sebuah proses pembelajaran dapat dilihat sebagai sebuah sistem. Hasil dari menggunakan tinjauan sistem dalam pembelajaran adalah melihat semua komponen dalam pembelajaran sebagai sesuatu yang saling berinteraksi hingga diperoleh interaksi secara efektif. Komponen dari sistem pembelajaran ialah pemelajar, instruktur (guru), bahan pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran. Gagne membagi sistem pembelajaran ke dalam lima unsur yaitu tujuan pembelajaran, content, bahan, metode, dan evaluasi.  Salah satu alternatif bentuk bahan ajar yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran yaitu peta konsep.

Peta konsep pertama kali dikembangkan di Cornel University oleh Stewart, Van Kirk dan Rowel dalam jurnal The American Biology Teacher tahun 1979 dengan judul Concept maps: A tool for use in biology teaching. Peta konsep yang dibuat tersebut tidak ada proposisi antar konsep. Pada tahun 1979 dan 1980 JD Novak mempublikasikan peta konsep dengan menggunakan referensi dari Stewart, Van Kirk dan Rowel. Peta konsep tersebut tetap belum mengandung proposisi. Baru pada tahun 1981 dalam jurnal yang sama dengan judul Applying psychology and philosophy to biology teaching Novak menggunakan hubungan antar konsep dan proposisi.

Novak & Gowin mengartikan peta konsep sebagai hubungan yang bermakna antara konsep dalam bentuk proposisi. Proposisi adalah hubungan dua atau lebih konsep dalam bentuk kata-kata. Secara ringkas peta konsep adalah hubungan dua konsep atau lebih melalui sebuah kata dalam bentuk proposisi. Hubungan antar konsep yang terbentuk harus memiliki makna Menurut Angelo and Cross sebagaimana yang ditulis oleh Maas, peta konsep adalah gambar yang menunjukan hubungan mental dan pola asosiasi dalam mempelajari pengetahuan. Sebuah peta konsep dapat dibuat secara beragam. Menurut Jones, dan kawan-kawan ada tiga jenis peta konsep yaitu spider maps, chain maps, dan hierarchy maps. 

Teori yang mendasari peta konsep ialah bagaimana pemelajar memproses dan mengorganisasi pengetahuan dalam domain kognisinya. Asumsi yang digunakan dalam peta konsep ialah dari teori kognitif yang menyatakan bahwa keterkaitan erat antar satu konsep dengan konsep lain merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sebuah pengetahuan. Dengan demikian komponen kunci dari peta konsep ialah hubungan antar konsep melalui kata-kata penghubungnya. Dalam sebuah peta konsep, keterkaitan antara sebuah konsep dengan konsep lain disusun secara bermakna sehingga membentuk proposisi. Dalam proposisi, sebuah konsep yang memiliki makna yang lebih luas diletakkan di atas. Sesuai dengan teori asosiatif, kaitan konsep yang satu dengan konsep yang lain ini bagi siswa merupakan hal yang penting dalam belajar, sehingga apa yang dipelajari oleh siswa akan lebih bermakna, lebih mudah diingat dan lebih mudah dipahami, diolah serta dikeluarkan kembali bila diperlukan.

Dalam aplikasinya pada pembelajaran, pembuatan peta konsep dapat melibatkan siswa, namun dengan terlebih dahulu dirancang oleh Guru.  Penggunaan peta konsep dalam pembelajaran dapat memperkirakan kedalaman dan keluasan konsep yang perlu diajarkan kepada siswa. 

Untuk membuat peta konsep dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:


  1. Memilih konsep-konsep kunci dari bahan ajar

Langkah pertama yang dilakukan adalah mendata konsep-konsep yang ada dalam sebuah pokok bahasan. Setelah semuanya terdata, selanjutnya dipilih yang penting dan merupakan  konsep kunci


  1. Urutkan konsep-konsep tersebut

Konsep-konsep yang telah dipilih, selanjutnya diurutkan dari yang paling bersifat umum ke yang bersifat khusus.


  1. Penyusunan hierarki konsep

Selanjutnya konsep-konsep yang telah diurutkan tersebut disusun secara hierarki dengan menempatkan konsep yang umum di atas konsep yang khusus.


  1. Membuat hubungan antar konsep (proposisi) 

Konsep-konsep yang telah disusun secara hierarki selanjutnya dibuatkan hubungan antar konsep tersebut. Hubungan antar konsep dibuat dengan menggunakan kata yang mudah diingat dan menunjukan proposisi yang benar.


  1. Melakukan peninjauan ulang terhadap peta konsep

Peta konsep yang sudah disusun selanjutnya diperiksa kembali untuk memastikan kebenaran proposisi dan tidak adanya konsep yang terlewatkan.

 

Referensi

Ahlberg, Mauri. Varieties of Concept Mapping. (Pamplona: Proceding of the First Conference on concept mapping, cmc.ihmc.us., 2004)

Dick, Walter &Lou Carey, James O. Carey, The Sistematic Design of Instruction, 5th edition. (New York: Longman, 2001)

Gagne, Robert M. Gagne. Instructional Technology: foundation. (London: Lawrence Erlbaun Association Publisher, 1987)

Maas, Jayne D. "Concept Mapping-Exploring Its Value as a meaningful Learning Tool in Accounting Education". (journal: Global Perspective on Accounting Education, Vol. 2, 2005).

Miarso, Yusufhadi. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan (Jakarta: Prenada Media, 2004)

Novak, Joseph D & D. Bob Gowin. "Learning how to learn". (Cambridge: Cambridge University Press, 1984)

Primo, Ruiz, Maria Araceli. Richard J. Shavelson. "Problem and Issues in the Use of Concept Maps in Science Assesment". (Journal of Research in Science Teaching, vol. 33 No.6. PP. 1996)

Sudirjo, Sudarsono & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Prenada Media, 2004)

West, Charles K, James A. Farmer, Philip M. Wolf. Instructional design: Implication from Cognitive Science (Boston: Allyn and Bacon, 1991)



Rahmat Saripudin
Grand Depok City
Sektor Crysant Blok C2/05 Kota Depok
Telp. 021 7096 0805
Hp. 0815 960 5275

Sunday, August 2, 2009

School-based management

This article discuss school-based management (SBM), why it usually fails, reconceptualization of SBM, and SBM in developing countries.

What is Really Means to be a Teacher?


So for you, "what is really means to be a teacher?"